Triasmitra Gelar Konferensi Pers Proyek Kabel Laut Rising 8
27 Jan 2026
Jakarta, 21 Januari 2026 – PT Ketrosden Triasmitra, Tbk (IDX: KETR) menggelar konferensi pers daring untuk memaparkan kemajuan penggelaran Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising 8, proyek kabel bawah laut internasional di Indonesia yang dioperasikan sepenuhnya menggunakan kapal berbendera Indonesia milik Triasmitra. Konferensi pers dihadiri oleh jajaran Direksi, Komisaris, dan Corporate Secretary Perseroan.
Dalam konferensi pers tersebut, Triasmitra memberikan pemaparan komprehensif mencakup keunggulan proyek Rising 8, desain jaringan dan konfigurasi sistem, progress terkini penggelaran, gambaran umum Cable Laying Vessel (CLV) Bentang Bahari, serta teaser proyek masa depan SKKL Indonesia Tengah. Sesi dilanjutkan dengan tanya jawab untuk memberikan klarifikasi lebih lanjut kepada media.
Proyek Rising 8 telah dimulai penggelarannya pada 13 Januari 2026. Dalam kemitraan dengan PT Mora Telematika Indonesia, Tbk (IDX: MORA), Triasmitra melalui anak perusahaannya PT Jejaring Mitra Persada (JMP) saat ini tengah menggelar kabel laut sepanjang 1.128 kilometer yang menghubungkan Jakarta-Singapura. Fase pertama yang sedang berlangsung berfokus pada segmen Jakarta-Batam dengan panjang 1.054 kilometer.
Keunggulan Teknis dan Kapabilitas Operasional
SKKL Rising 8 menggunakan teknologi repeatered system dengan kapasitas 25 Terabit per second (Tbps) per fiber pair. Kabel diproduksi oleh Norddeutsche Seekabelwerke (NSW), Jerman, sementara repeater diproduksi oleh Alcatel Submarine Network (ASN), Perancis. Kombinasi teknologi ini memastikan konektivitas berkecepatan tinggi dan keandalan sistem yang memenuhi standar internasional.
Penggelaran dilakukan menggunakan Cable Laying Vessel (CLV) Bentang Bahari, kapal berbendera Indonesia yang telah meraih sertifikasi lengkap dari Det Norske Veritas (DNV), lembaga klasifikasi maritim internasional. Kapal sepanjang 94,65 meter ini mampu mengangkut hingga 2.400 ton kabel dan dilengkapi teknologi Dynamic Positioning DP-2 untuk memastikan operasi penggelaran kabel yang presisi.
Bentang Bahari memiliki notasi kelas DNV yang meliputi E0 Notation (sistem propulsi dan kontrol otomatis), DP Notation (Dynamic Positioning System), dan Cable Ship Notation (kapal khusus penggelaran kabel laut). Sertifikasi dan notasi ini memastikan Bentang Bahari memenuhi standar keselamatan maritim internasional tertinggi dan layak beroperasi untuk penggelaran kabel laut.
Proyek ini telah mengantongi kelengkapan perizinan dari berbagai instansi pemerintah, termasuk Izin Lingkungan (AMDAL) dari Kementerian Lingkungan Hidup, Izin Membangun dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI, dan Security Clearance dari Kementerian Pertahanan RI. Dalam pelaksanaannya, penggelaran diawasi oleh Security Officer (SO) dari Kemenhan, Technical Officer (TO) dari Pushidrosal TNI AL, serta personil pengawas dari PSDKP KKP dan Perhubungan Laut.
Dukungan Pemerintah dan Nilai Strategis
Proyek Rising 8 mendapat dukungan penuh dari pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menyatakan bahwa SKKL Rising 8 merupakan bagian dari misi Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Komdigi menekankan bahwa proyek ini merupakan bagian integral dari Rencana Strategis untuk meningkatkan penetrasi dan kualitas layanan akses digital serta mewujudkan kedaulatan dan kemandirian digital Indonesia.
"Penggelaran SKKL Rising 8 dengan CLV Bentang Bahari menandai era baru kemandirian Indonesia di sektor infrastruktur kabel laut," ujar Titus Dondi, Direktur Utama PT Ketrosden Triasmitra Tbk. "Dengan kapasitas 25 Tbps per pair cable dan kendali penuh atas operasional, kami optimis proyek ini tidak hanya akan meningkatkan konektivitas digital Indonesia-Singapura, tetapi juga memposisikan Triasmitra sebagai pemain regional yang kompetitif dengan standar operasional kelas dunia. Kami berkomitmen menyelesaikan penggelaran segmen satu ini tepat waktu pada bulan April 2026.”
SKKL Rising 8 hadir untuk menjawab kebutuhan bandwidth tinggi dan keandalan konektivitas Indonesia-Singapura. Kehadiran sistem ini juga dapat berfungsi sebagai jalur alternatif, baik domestik maupun internasional, bagi penyelenggara Layanan Gerbang Akses Internet (NAP) eksisting, memberikan redundansi yang krusial untuk menjaga stabilitas infrastruktur digital nasional.
Timeline dan Pengembangan Masa Depan
Penggelaran segmen pertama Jakarta-Batam dijadwalkan selesai pada bulan April 2026. Proyek ini menandai komitmen Triasmitra untuk terus memperkuat infrastruktur telekomunikasi Indonesia dan memposisikan perusahaan sebagai pemain kunci dalam pembangunan konektivitas regional.
Dalam konferensi pers, Triasmitra juga memberikan gambaran mengenai proyek selanjutnya, yaitu SKKL Indonesia Tengah sepanjang 8.732 kilometer dengan target komersialisasi tahun 2027. Proyek ini akan menghubungkan berbagai wilayah strategis di Indonesia Tengah dan memperkuat backbone telekomunikasi nasional.