Apa Itu Kabel Laut? Infrastruktur Digital yang Menghubungkan Indonesia dengan Dunia

03 Feb 2026

Di era transformasi digital, kecepatan dan keandalan konektivitas internet menjadi faktor krusial bagi pertumbuhan ekonomi dan daya saing bisnis. Namun, infrastruktur yang menopang konektivitas global ini sering kali tidak terlihat, karena berada di dasar laut.

Menurut TeleGeography (2025), perusahaan riset telekomunikasi global, kabel laut atau submarine cable mengangkut lebih dari 99% lalu lintas data internasional global. Meskipun teknologi satelit terus berkembang, kabel fiber optik yang terbentang di dasar samudra tetap menjadi tulang punggung utama yang menghubungkan benua, negara, dan pulau-pulau di seluruh dunia.

Bagi perusahaan yang mengelola infrastruktur digital atau bergantung pada konektivitas internasional yang stabil, memahami peran kabel laut menjadi semakin relevan terutama di Indonesia yang memiliki kebutuhan konektivitas yang unik sebagai negara kepulauan.

Arsitektur Kabel Laut: Teknologi di Balik Konektivitas Global

Kabel laut adalah sistem kabel fiber optik yang dirancang khusus untuk instalasi bawah laut. Sistem ini mampu mengangkut data dalam volume besar dengan kecepatan tinggi dan latensi rendah. Untuk instalasi laut dalam, digunakan kabel tipe lightweight (LW) atau lightweight protected (LWP) dengan diameter sekitar 16-18 mm yang mampu mentransmisikan data dengan kapasitas mencapai puluhan hingga ratusan terabit per detik.

Struktur kabel dirancang berlapis untuk ketahanan maksimal. Di bagian inti terdapat serat optik, media transmisi yang menggunakan teknologi pulsa cahaya untuk transfer data. Kabel dilindungi berlapis-lapis: ada lapisan tembaga untuk mengalirkan listrik dan mencegah gangguan sinyal, pelindung baja untuk kekuatan struktural, dan lapisan luar dari bahan khusus yang tahan terhadap tekanan air laut dan korosi.

Di perairan dangkal atau shallow water, khususnya di area dengan aktivitas maritim tinggi seperti jalur pelayaran atau area penangkapan ikan, kabel dilengkapi dengan armor tambahan berupa Single Armor (SA) atau Double Armor (DA). Proteksi berlapis ini penting mengingat potensi ancaman dari jangkar kapal, peralatan penangkapan ikan, hingga pergeseran dasar laut akibat gempa.

Kabel laut menjadi solusi utama dibandingkan satelit dalam mendukung konektivitas internet berkecepatan tinggi. Dibandingkan teknologi satelit, kabel laut menawarkan kapasitas bandwidth yang jauh lebih besar serta latensi yang lebih rendah. Keunggulan ini sangat penting bagi industri finansial dan trading yang membutuhkan koneksi internet yang stabil, andal, dan cepat. Selain itu, jaringan kabel laut tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca ekstrem dan lebih efisien dari sisi biaya operasional dalam jangka panjang.

Peran Strategis Kabel Laut untuk Konektivitas Indonesia

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau yang tersebar di wilayah geografis yang luas, Indonesia memiliki ketergantungan tinggi terhadap infrastruktur kabel laut, baik untuk konektivitas domestik maupun internasional.

Kabel laut menjadi pondasi penting bagi berbagai sektor ekonomi digital. Industri perbankan bergantung pada koneksi berkecepatan tinggi untuk transaksi real-time dan integrasi sistem dengan pusat-pusat finansial regional. Sektor teknologi, termasuk operator data center, penyedia layanan cloud, dan platform digital memerlukan bandwidth besar untuk pengiriman konten dan sinkronisasi data. Bahkan sektor tradisional seperti manufaktur dan logistik kini mengandalkan konektivitas global untuk manajemen rantai pasok dan implementasi teknologi Internet of Things (IoT).

Berdasarkan data dari Center for Indo-Pacific Affairs (2024), Indonesia saat ini terhubung dengan lebih dari 60 sistem kabel laut. Konektivitas ini tidak hanya menghubungkan Jakarta dengan Singapura dan negara-negara tetangga, tetapi juga memastikan konektivitas regional ke kawasan Indonesia Timur yang secara historis menghadapi tantangan akses digital.

Klasifikasi Kabel Laut: Domestik dan Internasional

Dalam konteks operasional, kabel laut dapat dikategorikan berdasarkan cakupan geografisnya:

Kabel Laut Domestik menghubungkan antar pulau dalam satu negara. Di Indonesia, sistem domestik seperti Jakarta-Surabaya (Jayabaya) atau Surabaya-Denpasar (SDCS) menjadi infrastruktur penting untuk konektivitas nasional. Kabel domestik memastikan bahwa kesenjangan digital antarwilayah dapat diminimalisir, mendukung pemerataan akses teknologi dan layanan digital.

Kabel Laut Internasional melintasi batas negara, menghubungkan Indonesia dengan infrastruktur internet regional dan global. Sistem internasional umumnya melibatkan investasi konsorsium dengan berbagai pihak, mencerminkan skala investasi dan kompleksitas regulasi yang lebih tinggi. Dampaknya terhadap ekonomi digital sangat signifikan, dimana kabel internasional menentukan ketersediaan bandwidth dan struktur biaya untuk layanan internet Indonesia.

Salah satu perkembangan signifikan dalam jaringan kabel laut Indonesia adalah Rising 8, sistem kabel internasional sepanjang 1.128 kilometer yang menghubungkan Jakarta-Singapura dengan kapasitas 25 terabit per detik per fiber pair. Yang membedakan Rising 8 adalah penggunaan teknologi penguat sinyal canggih dan kabel dengan efisiensi tinggi, serta instalasi menggunakan kapal penggelar kabel milik Indonesia, Bentang Bahari, dimana hal tersebut menandai peningkatan kapabilitas nasional dalam industri kabel bawah laut.

Siklus Pengembangan Sistem Kabel Laut

Implementasi kabel laut melibatkan banyak tahapan yang kompleks dan membutuhkan waktu bertahun-tahun dari proses perencanaan hingga operasional atau ready-for-service (RFS).

1. Perencanaan dan Survei Laut

Fase awal proyek dimulai dengan koordinasi bersama pihak berwenang terkait pengajuan jalur kabel, penentuan landing point atau lokasi pendaratan kabel, serta spesifikasi kabel laut yang akan digelar. Setelah melalui serangkaian proses, institusi yang berwenang akan menerbitkan surat penetapan jalur lokasi marine survey pada area perairan yang direncanakan sebagai lokasi penempatan kabel laut. Selanjutnya, dilakukan survei laut (marine survey) untuk mengevaluasi kondisi perairan secara menyeluruh dan detail.

2. Penetapan Jalur Kabel

Berdasarkan hasil survei laut, perusahaan pengembang yang sering disebut sebagai pemrakarsa akan mengajukan laporan survei tersebut untuk memperoleh penetapan detail jalur kabel. Proses ini bertujuan untuk menentukan jalur kabel bawah laut yang paling optimal, aman, dan telah disurvei serta disetujui untuk digunakan.

3. Pengadaan

Setelah jalur kabel final disetujui oleh pihak berwenang, perusahaan pengembang melakukan pengadaan terkait kabel yang dibutuhkan. Kabel dirancang sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan berdasarkan karakteristik rute, panjang, kedalaman, kondisi lingkungan, dan kebutuhan kapasitas.

4. Perizinan Lingkungan

Selain penetapan jalur kabel, perusahaan pengembang juga harus mendapatkan izin lingkungan berupa UKL/UPL atau persetujuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk memastikan proyek memenuhi standar perlindungan lingkungan.

5. Perizinan Kerja Penggelaran

Sebelum pelaksanaan instalasi kabel laut, perusahaan pengembang wajib memperoleh izin kerja penggelaran yang mencakup beberapa perizinan dan penugasan resmi berikut:

- Izin Membangun SKKL (Sistem Komunikasi Kabel Laut) dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Hubla) Kementerian Perhubungan RI.

- Surat Persetujuan Kegiatan Bawah Air (SPKBA) dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Dokumen ini memuat rincian peralatan bawah laut yang akan digunakan serta jumlah sumber daya manusia yang terlibat dalam proses penggelaran kabel laut.

- Penerbitan Security Clearance (SC) dan Penunjukan Security Officer (SO) melalui Surat Perintah Petugas dari Kementerian Pertahanan RI. Security Officer adalah personel TNI Angkatan Laut yang bertugas mengawasi kegiatan di atas kapal, khususnya yang melibatkan tenaga kerja asing, selama proyek berlangsung.

- Penunjukan Technical Officer (TO) melalui Surat Perintah Petugas dari Pushidrosal. Technical Officer adalah personel TNI Angkatan Laut yang bertanggung jawab memastikan jalur kabel laut yang digelar sesuai dengan rute yang telah ditetapkan.

- Selain Security Officer dan Technical Officer, terdapat pula petugas pengawas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Perhubungan (Direktorat Jenderal Perhubungan Laut) yang turut berada di atas kapal selama proyek berlangsung. Pengawasan ini bertujuan untuk menjamin aspek keamanan, keselamatan, serta presisi dalam proses penggelaran kabel laut.

6. Instalasi

Dilakukan menggunakan kapal khusus Cable Laying Vessel yang dilengkapi dengan sistem positioning presisi untuk memastikan kabel diletakkan tepat di jalur yang telah ditentukan. Di perairan dangkal, kabel dikubur di dalam pasir dasar laut untuk perlindungan ekstra. Kompleksitas instalasi meningkat signifikan pada rute yang melintasi jalur pelayaran dengan lalu lintas tinggi atau zona dengan aktivitas seismik.

7. Pengujian dan Commissioning

Memastikan performa sistem sesuai spesifikasi, meliputi serangkaian pengujian kualitas transmisi dan validasi sistem secara menyeluruh sebelum kabel dinyatakan ready-for-service.

8. Operasi dan Pemeliharaan

Setelah operasional, kabel laut memerlukan pemeliharaan berkelanjutan dan kesiapan untuk perbaikan cepat. Meskipun dirancang untuk masa operasional lebih dari 25 tahun, kerusakan dapat terjadi akibat aktivitas eksternal (penangkapan ikan, jangkar kapal), kejadian alam (gempa bumi, longsor bawah laut), atau penurunan kualitas komponen. Ketersediaan kemampuan perbaikan termasuk kabel cadangan, kapal perbaikan, dan keahlian teknis menjadi faktor kritis dalam keandalan sistem.

Implikasi untuk Infrastruktur Digital Indonesia

Pertumbuhan lalu lintas data yang sangat cepat, didorong oleh adopsi cloud computing, streaming video berkualitas tinggi, dan teknologi baru seperti kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) serta edge computing, menuntut perluasan berkelanjutan dalam kapasitas kabel laut.

Bagi Indonesia, investasi dalam infrastruktur kabel laut bukan hanya tentang memperluas bandwidth, tetapi juga tentang positioning strategis sebagai pusat konektivitas regional. Keunggulan geografis Indonesia di koridor Asia-Pasifik dan Asia Tenggara memberikan peluang untuk diversifikasi titik pendaratan kabel yang merupakan pertimbangan penting mengingat dinamika geopolitik dan kebutuhan ketahanan jaringan.

Infrastruktur kabel laut juga memiliki efek berganda terhadap ekonomi. Setiap peningkatan kapasitas bandwidth membuka peluang bagi pertumbuhan layanan digital, mengurangi biaya konektivitas internasional, dan menarik investasi data center serta perusahaan teknologi yang membutuhkan konektivitas global yang andal.

Dengan pemahaman yang komprehensif tentang sistem kabel laut, dari arsitektur teknis hingga persyaratan operasional, para pemangku kepentingan dapat membuat keputusan yang terinformasi dalam merencanakan infrastruktur jaringan, mengevaluasi opsi konektivitas, dan memahami interdependensi dalam ekosistem digital yang semakin kompleks.

Tags: Kabel Laut - Kabel Bawah Laut Indonesia - Infrastruktur Digital Indonesia - Konektivitas Digital - Telekomunikasi Indonesia

← Back to blog